Resensi – Negara Kelima

Judul : Negara Kelima
ISBN : 979-16-0095-3
Penulis : E.S Ito
Terbit : November 2005
Halaman : 502 Halaman
Penerbit : Serambi

 

 

 

 

 

Raganya Indonesia

Tetapi jiwanya tidak lagi Nusatara

 

Satu kelompok berkuasa

Sisanya pengaya saja

Sebagian kecil kelompok kaya

Sisaya menanggung derita

 

Bubarkan Indonesia

Bebaskan Nusantara

Bentuk Negara Kelima!”

 

Kata-kata provokatif itu pertama kali muncul begitu saja pada tanggal 18 Agustus dan tampil di semua website pemerintahan. Bendera merah putih diganti pula dengan bendera nusantara dengan linkup lebih besar. Bahayanya lagi, semua kata “Indonesia” diganti dengan “Nusantara”. Siapa lagi pelakunya kalau bukan kelompok patriotik?

Tanggal 20 Agustus, dua bank milik pemerintah dibobol oleh kelompok ini yang menyebabkan terjadinya rush. 23 Agustus, sistem komputer Bandara Soekarno-Hatta diretas yang menyebabkan penundaan penerbangan, dan banyak lagi kejadian-kejadian yang mengarah pada aksi pemberontakan. Lalu, di setiap saluran tunggu telpon milik PT Telkom, yang terdengar adalah kalimat,”Bebaskan Indonesia, Bebaskan Nusantara, bentuk Negara Kelima.”

Polisi, menamai kelompok ini dengan Kelompok Patriotik Radikal (KePaRad). Polisi berhasil menangkap dua orang anggota kelompok ini. Namun, selang 48 jam setelah penangkapan, tiga orang gadis remaja dibunuh secara sadis dengan simbol pyramid dan belahan diagonal yang diukir di tubuh korban.

Timur Mangkuto, inspektur kepolisian Metro Jaya dituduh sebagai pembunuh dalam kasus ini. Dia berhasil melepaskan diri dan dibantu temannya Genta. Dalam pelariannya, ia bertemu dengan seorang sejarawati bernama Eva Duani. Bersama-sama mereka mencoba memecahkan misteri Negara Kelima yang menuntun mereka pada satu kesimpulan : Atlantis adalah Nusantara puba, dan KePaRad mencoba membangkitkannya.

Semua cerita diatas dirangkum dengan baik menjadi sebuah novel misteri yang sangat apik. Menurut saya, E.S Ito dengan sangat baik “memasak” semua sejarah, baik yang berupa fakta ataupun yang masih dalam perdebatan, menjadi sebuah dasar yang kokoh dalam pengembangan cerita. Ia juga tidak ragu memasukkan paham-paham ekstrim ke dalam ceritanya. Ini menjadi sebuah nilai positif bagi novel yang sangat menarik ini.

Menariknya, takhanya memasukkan unsur-unsur umum yang berkaitan dengan atlantis seperti Timaeus and Critias, penulis juga memakai referensi tidak biasa yang berasal dari tanah kelahirannya di Sumatera Barat, yaitu ‘Tambo’. Tambo sendiri merupakan karya sastra sejarah yang merekam kisah dan legenda mengenai asalusul bangsa, negeri, serta tradisi dan alam di Minangkabau.

Dari segi alur cerita sendiri, saat kita membaca novel ini, kita akan dibawa ke peristiwa-peristiwa masa lampau dan masa kini yang menegangkan. Semua rangkaiannya juga disuguhkan dengan terus mengalir dan tidak membosankan. Fakta sejarah, legenda, dan cerita fiksi berpadu dengan baik menjadi satu kesatuan. Bagi anda yang sudah terbiasa membaca novel-novel karya penulis Dan Brown, seperti Da Vinci Code, Inferno, Digital Fortress, dsb. Anda mungkin akan merasakan suasana seperti di novel luar negeri itu.

Meski begitu, beberapa fakta sejarah kesannya “dipaksakan” agar cocok dengan alur cerita yang diinginkan E.S Ito. Bahkan beberapa diantaranya seperti mengada-ada. Hal ini akan membuat anda berusaha mencari fakta sejarah sebenarnya dan mulai berfikir,”hmmmmm, rasanya gak mungkin.”

Namun, terlepas dari itu, novel ini membawa pesan yang sangat positif berkaitan dengan kesatuan negara Indonesia, serta mengajarkan apa yang pernah diucapkan Ir.Soekarno, “Jangan sekali-sekali melupakan sejarah”.

Jadi, saya sangat merekomendasikan novel ini bagi anda pecinta novel fiksi thriller dan ingin mengetahui seberapa menegangkannya petualangan di tanah air kita.

 

Penulis adalah mahasiswa jurusan Sistem Informasi, Fakultas Teknologi Informasi, Universitas Andalas Angkatan 2014

Pos terkait