Pesan Anak Kampus – HAL KECIL

Kematian masal menjadi perbincangan hangat beberapa hari ini, lebih dari 7 orang ditemukan meninggal karena kecelakaan motor. Kira-kira begitulah separuh pesan yang Nizam baca di lini masa sebuah LINE Official Account bernama Pesan Anak Kampus, disingkat PAK. OA yang adminnya tak seorang pun tahu, OA tempat mahasiswa di kampus Nizam melemparkan unek-unek mereka tanpa harus takut identitas mereka diketahui, dan OA yang menerima pesan anonim dari siapapun dan akan mempostingnya di lini masanya.

Nizam tak membaca kelanjutan info tersebut karena bus kampus yang ia tunggu sejak 20 menit yang lalu sudah datang, membaca PAK hanyalah pengisi kebosanan. Dua unit bus berhenti, menurunkan dan menaikkan penumpang bersamaan. Penumpang-penumpang lain yang sama-sama menunggu seperti Nizam berbondong-bondong masuk bus agar kebagian tempat duduk. Nizam tak menyukainya, berdesak-desakan memperebutkan sesuatu, lebih baik ia mencari alternatif lain.

Wah, bukankah seharusnya dahulukan yang turun ya ?” Nizam heran dengan fenomena tersebut. Aturan tersebut sudah berkali-kali ia lihat setiap naik-turun bus kampus, namun entah kenapa sangat sedikit yang mengindahkannya.

Nizam pindah ke bus kedua, tepat di belakang bus pertama yang sudah penuh dan akan berangkat. Beruntung Nizam tak harus berdesak-desakan seperti sebelumnya, penumpang yang naik hanya Nizam dan 4 orang penumpang lain. Sopirnya pun turun karena bus masih belum penuh.

Nizam naik lewat pintu belakang, ia duduk tenang di bangku paling belakang, sendiri, memantau grup kelas yang diambilnya, apakah ia masih sempat atau sudah terlambat, Namun, mood Nizam kembali terusik dengan masuknya empat orang gadis melalui pintu yang sama yang ia gunakan untuk masuk tadi. Nizam menatap sinis sambil sesekali memandangi poster peraturan bus kampus yang terpampang jelas di kaca pintu masuk bus. “Perempuan masuk lewat pintu depan, laki-laki masuk lewat pintu belakang”, begitulah bunyi salah satu peraturan yang tertera.

Tatapan Nizam tak disadari, rasa ingin memarahi bahkan mendorongnya keluar muncul di benak Nizam. Kenapa ? Karena ini jugalah yang terjadi di bus sebelumnya yang hendak Nizam naiki, ia harus mengalah untuk masuk lewat pintu yang seharusnya adalah hak dan kewajibannya untuk melewati pintu tersebut, namun apa daya, karena itu hanya sekadar “poster”.

“Heh, women always right, ya,” gumam Nizam pelan.

“Sebegitu kesalkah kamu pada mereka ?” sahut seorang pria paruh baya pelan yang tiba-tiba sudah duduk di sebelah kanan Nizam.

Nizam tak terkejut sama sekali, setidaknya begitulah yang ia perlihatkan, ia hanya menggerakkan bola matanya ke arah pria tersebut.

“Ah ? Nggak juga sih Pak.” balas Nizam sedikit tertawa.

“Lalu ?” pria tersebut kembali bertanya.

“Yaaa,” Nizam menyimpan smartphonenya, menghargai orang yang berbicara padanya.

“Kurang suka aja sih, Pak. Aturannya kan ada, sudah dipajang di tiap bus, kok masih dilanggar, padahal dulu saya pernah liat ada cowok yang kena marah pas lewat pintu depan. Masa yang cewek dibiarin ?” jelas Nizam.

“Kadang saya udah lama nunggu, eh malah nggak bisa naik.” Nizam meneruskan keluhannya. Setidaknya cara ini lebih efektif menghilangkan kekesalan daripada cuma mempostingnya di lini masa PAK.

“Tegur, atau nggak kasih ganjaran,” saran pria tersebut. Ia tampak sangat ramah.

“Harusnya ada ganjaran buat mereka supaya jera, atau nggak lenyap, atau mati aja sekalian,” Nizam sedikit terkejut dengan apa yang dikatakannya, namun ia kembali menjadi dirinya dengan tidak mengekspresikan kagetnya itu. Sebelumnya ia tak pernah bercerita selepas itu pada orang yang tak dikenalnya, namun kali ini unek-uneknya mengalir begitu saja. Perasaan aneh mulai menyelimutinya.

“Maksud saya…“ Nizam tak sempat mengklarifkasi ucapannya barusan karena pria tersebut sudah tidak ada lagi, ia menghilang begitu saja seolah tak pernah di sana sebelumnya.

Sopir bus telah naik dan mesin telah dinyalakan, namun kecemasan Nizam masih berbekas. Gemuruh mengiringi rasa cemasnya, perlahan langit menjadi gelap, rintik hujan turun tetes demi tetes, tak lebat, tapi nuansanya cukup aneh bagi Nizam walau pertanda hujan sudah menyapa dari tadi.

Nizam tampak gelisah, ia membuka smartphonenya berniat membaca kembali postingan PAK yang belum selesai dibacanya. Screen Androidnya menunjukkan pukul 7.57 AM, ia bahkan lupa bahwa ia sudah terlambat. Gelisah mendominasi Nizam saat itu. Nizam yang biasanya tenang dan cukup pintar menyembunyikan ekspresinya terlihat cemas walau ia sudah mencoba untuk tidak memperlihatkannya.

“Harap berhati-hati jika ada pria berumur 30-an memakai kalung aneh menghampiri anda dan mengajak berbicara, kejadian buruk mungkin saja terjadi pada diri anda maupun orang sekitar anda.”

Lanjutan postingan yang dibaca Nizam membuat kecemasannya semakin menjadi-jadi, hal yang diperingatkan di lini masa PAK itu baru saja ia alami. Ia baru saja berbicara lepas dengan pria yang disebutkan. Tak sampai di situ, kejadian tak terduga pun menambah kecemasan Nizam sekaligus membuktikan kebenaran peringatan tersebut. Bus pertama yang tak jadi Nizam naiki sebelumnya mengalami kecelakaan.

Nizam bertepuk dan diturunkan di halte tak jauh dari TKP. Ia hanya melihat dari kejauhan pemandangan mengenaskan itu, semuanya terkesan kebetulan dan tak nyata, tapi itu benar-benar terjadi.

“Itu kenapa, Bang ?” Tanya Nizam pada pria di sebelahnya.

“Yang saya dengar pas di pendakian ada anjing lewat, karena hujan jalannya licin, nggak terkontrol, jadinya terbalik. Gitu, Dek. Itu sopirnya yang bilang langsung,” Jelas pria tersebut singkat.

Nizam cepat menyadari apa yang terjadi, dan itu membuatnya makin penasaran, tak peduli hujan ia tetap mendekati bus memastikan kebenaran peringatan tersebut. Nizam makin terkesima dengan apa yang dilihatnya, orang-orang yang meninggal adalah orang-orang yang tadinya mengambil kesempatan Nizam untuk menaiki bus pertama, orang-orang yang tadinya memaksa naik dan tidak mendahulukan penumpang yang ingin turun, dan orang-orang yang naik lewat pintu yang tak seharusnya. Nizam masih ingat wajah dan pakaian mereka.

Gelisah yang dirasakan Nizam berkurang dan bercampur kagum, ucapannya serasa bisa menjadi kenyataan. Tapi, semua itu sangat aneh dan Nizam tak mengharapkan semuanya terjadi sampai seperti itu, itu terlalu berlebihan.

Beberapa hari berlalu, peristiwa tersebut sudah jarang terdengar, tak ada yang aneh, semuanya menganggap itu hanya sebuah kecelakaan. Belakangan ini Nizam sering menghabiskan waktu di perpustakaan kampusnya atau di cafe.

Siang itu, Nizam sedang berada di cafe dekat kosnya, dengan fasilitas yang disediakan, Nizam menemukan fakta bahwa itu bukan kejadian yang pertama kali. Tiga kejadian serupa juga pernah terjadi di tempat yang berbeda-beda. Meninggalnya 7 siswa SMP karena kecelakaan motor, meninggalnya 5 mahasiswa karena kamar kos mereka terbakar, dan meninggalnya 5 orang pria ditabrak truk karena kelalalaian sopirnya. Lalu, kejadian yang baru saja ia alami, 13 orang meninggal karena kecelakaan bus. Semua kejadian ini memiliki beberapa kesamaan.

“Fi, gua ada berita, sekarang lu di mana ? Gua bakal jelasin langsung, lu mesti usut berita ini !” Nizam tampak menggebu-gebu. Ia bahkan menyelesaikan semua pertanyaanya sekaligus. Ia menghubungi temannya yang merupakan seorang jurnalis dari Unit Pers di kampusnya. Ia merasa bahwa akan lebih bermanfaat mengirimnya ke portal berita dibanding lini masa PAK seperti yang kebanyakan teman-temannya lakukan.

Setelah ia diberitahu bahwa temannya sedang di kampus, tanpa pikir panjang Nizam bergegas untuk menemui temannya itu. Nizam menunggu bus di halte yang tak jauh dari cafe tersebut.

“Permisi,” Nizam bergegas masuk lewat pintu belakang dan duduk di tempat biasa, ia bahkan mendahului beberapa penumpang lain yang lebih lama menunggu, ia tampak bersemangat sehingga tak menyadari bahwa masih ada beberapa penumpang yang ingin turun.

Nizam terhenti, ia menyadari kesalahannya, perasaan cemas datang tanpa permisi. Seperti tahu apa yang akan terjadi, ia mengabaikan orang di sekitarnya, lalu mengirim pesan teks dan pesan suara pada teman yang akan ia temui. Nizam tampak tergesa-gesa, bus terasa berayun bergerak cepat namun tak stabil. Di tengah rekaman, tiba-tiba sopir bus banting stir seperti menghindari sesuatu yang melintas. Semuanya baik-baik saja, busnya tak terbalik, dan kambing yang melintas pun tak tertabrak. Namun sial untuk Nizam, ia terpental keluar bus saat ia sedang fokus mengirim rekaman suara, pintu bus memang banyak yang tak ditutup.

Seorang mahasiswa yang tadinya duduk di sebelah Nizam memberitahukan hal tersebut, mahasiswi yang menyaksikan pun berteriak histeris. Nizam terkapar, darah mengalir dari kepalanya akibat benturan keras ke sudut trotoar. Bus dihentikan dan beberapa penumpang turun mengerubungi Nizam.

Keributan terjadi, banyak yang mulai bertanya kenapa, berbisik-bisik menggilir jawaban. Suara-suara itu terdengar samar-samar oleh Nizam, napasnya perlahan melambat, pandangannya mulai kabur, dan suara gemuruh kerumunan itu perlahan tak terdengar.

“Woi, angkat dia! Jangan cuma diliatin!” teriak sopir bus tersebut.

Nizam sudah tak sadarkan diri, badannya terkulai dengan tetap menggenggapm smartphonenya. Layarnya yang sudah hampir seluruhnya hancur sedikit memperlihatkan pengiriman rekaman suara yang masih belum selesai.

*(BELUM) TAMAT*

Penulis : Anonim