Pengungsi Dunia dan Dilema Kemanusiaan

Sumber : google images

Dalam berberapa dekade, jumlah pengungsi dunia mengalami pertumbuhan. Menurut Lembaga PBB UNHCR, jumlah pengungsi akhir 2018 mencapai 70,8 juta orang. Satu tahun sebelumnya pengungsi dunia tercatat di angka 65, 6 juta jiwa berdasar data dari lembaga yang sama.

Data terbaru yang keluar tahun ini, ada sekitar 79,5 juta pengungsi diseluruh dunia atau 1 pengungsi dari setiap 97 penduduk bumi pada akhir 2019. Data ini dikutip dari lama Kompas yang dirilis pada Kamis, (18/6/2020). Berdasarkan pernyataan Komisaris Tinggi UNHCR Filippo Grandi, mengatakan bahwa tahun ini menduduki peringkat tertinggi dengan jumlah pengungsi terbanyak sejak statistik data pengungsi dikumpulkan. Jumlah ini melonjak dua kali lipat dibanding satu dekade yang lalu.

Sekarang yang menjadi pertanyaannya, kenapa semakin tahun pertumbuhan angka pengungsi diseluruh dunia semakin melonjak naik? Data rincian dari UNHCR di tahun ini, negara dengan pengungsi terbanyak dipegang oleh Suriah (6,6 juta), Venezuela (3,7 juta), Afganistan (2,7 juta), Sudan (2,2 juta), dan Myanmar (1,1 juta). Suriah telah menjadi negara dengan penyumbang pengungsi terbesar sejak 2011 dari konflik berkepanjangan yang membuat setengah dari warga Suriah kehilangan tempat tinggal. Kini mereka telah tersebar lebih dari 126 negara untuk mencari perlindungan.

Di sisi lain, Myanmar-Rohingya telah mengambil andil yang cukup besar dalam menyumbang pengungsi. Hal ini diakibatkan konflik yang terus menerus sedari tahun 2000-an. Beralih ke Venezuela, di awal dekade terdapat 6.700 saja pengungsi. Tapi, jumlah ini melonjak drastis yang disebabkan oleh kondisi politik dan sosio-ekonomi yang tengah memanas. UNHCR mencatat hingga akhir 2019, terdapat 3.675.500 pengungsi berkewarganegaraan venezuela.

Dari data yang ada, banyak pengungsi berasal dari negara yang tengah dilanda konflik yang berkepanjangan. Masalah ini berakhir sebagai masalah kemanusiaan yang perlu untuk dicarikan solusi. Namun sungguh disayangkan, tidak ada solusi pasti yang dapat diterapkan untuk mengatasi masalah tersebut. Contohnya di Unit Eropa, mereka tengah mempermasalahkan pendatang yang banyak mengungsi ke Eropa dan bagaimana mereka bisa membendung arus tersebut.

Di Brussel diadakan pertemuan sidang yang dipimpin oleh ketua dewan Uni Eropa yang dipegang oleh Luksemburg membahas terkait 160.00 pengungsi yang masuk lewat Yunani, Italia, dan Hongaria. Dari pertemuan itu tidak ada solusi terhadap tantangan tersebut semisal memberikan tempat tinggal bagi para pengungsi. Mereka para menteri malahan menuntut untuk perbatasan Uni Eropa harus dilindungi yang berarti mereka mencegah lebih banyak lagi pengungsi yang masuk. Tapi tuntutan itu tidak dapat dengan mudah dilaksanakan karena perbatasan berada di lautan.

Konferensi tersebut menghadirkan sebuah kesimpulan yang begitu pahit bagi para pengungsi dimana realita yang diterima menunjukkan bahwa tidak ada langkah pasti dan nyata untuk mengatasi masalah mereka yang menuju Eropa untuk mencari perlindungan dan kehidupan yang lebih baik.

 

Penulis : Medi Rahmat (Teknik Komputer 2018)

Editor : Divisi Redaksi