Pemilu FTI 2019 : Kurangnya Persiapan Calon Gubernur BEM dalam Kampanye Dialogis

Menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 yang digelar secara serentak, di Fakultas Teknologi Informasi (FTI) Panitia Pemilihan Umum (PPU) FTI Unand dibawah koordinasi Badan Pemilihan Umum (BPU) menggelar Kampanye Dialogis untuk dua Calon Gubernur (Cagub) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) FTI di koridor FTI, Jum’at (18/10).

Kampanye Dialogis yang merupakan tahapan dari kegiatan Pemilu dibuka oleh gubernur BEM FTI Unand, Kelfin Ambar Susilo dan kata sambutan dari Presiden Mahasiswa (Presma) Unand yaitu Ismail Zainuddin. Kampanye dimulai dengan penyampaian orasi, visi-misi, tanya jawab dari Panelis dan warga FTI. Panelis tersebut terdiri dari gubernur BEM FTI, presma Unand, dan ketua DPM FTI. Kampanye dilakukan dalam dua bagian. Bagian pertama untuk cagub BEM dan bagian kedua untuk calon ketua DPM.

Kampanye bagian pertama, dilakukan dengan sesi tanya jawab dan tanggapan langsung dari panelis. Pertanyaan pertama di ajukan oleh gubernur BEM FTI dengan 4 pertanyaan. Pertanyaan 1 dan 2 dijawab oleh cagub nomor urut 2 sedangkan pertanyaan 3 dan 4 oleh cagub nomor urut 1.

(Foto : Afni Nazara)

M. Iqbal Nafis sebagai cagub nomor urut 1 mendapatkan pertanyaan mengenai ekspetasi maba (mahasiswa baru) ketika baru tergabung dengan FTI dan bagaimana menyalurkan aspirasi mereka. Halim Wardana cagub nomor urut 2 mendapatkan pertanyaan tentang strateginya terhadap mahasiswa FTI yang proaktif dan produktif serta kearah mana prestasi mahasiswa FTI diarahkan. Kedua cagub memaparkan jawabannya dengan semangat yang luar biasa, diikuti tepuk tangan mahasiswa yang menyaksikan kampanye tersebut. Namun, para panelis kurang puas terhadap jawaban yang diberikan. Ismail, mengkiritik kedua cagub tersebut. “Untuk keduanya, pada saat penyampaian visi misi tadi kawan-kawan hanya menyampaikan secara umum. Konkritnya apa? Padahal mahasiswa FTI butuhnya itu. Kalau hanya secara umum, saya rasa moderator juga bisa” Ucapnya.

Selanjutnya, Ismail memberi pertanyaan tentang pemahaman kedua calon terhadap pergerakan mahasiswa dan isu terhangat yang ada di Indonesia saat ini. Namun, jawaban dari keduanya dirasa masih kurang. Ismail menanggapi  “Menurut saya, kedua calon memaparkan jawabannya secara umum. Saya rasa, semua mahasiswa disini juga sudah paham. Kedua calon harus paham inti dan konkrit masalah lebih dalam. Kawan-kawan hari ini harus punya narasi yang bagus dan jelas. Menambah literasi, banyak-banyak berdiskusi dan membaca buku pergerakan. Contoh simplenya saja seperti kurangnya narasi adalah kawan-kawan hari ini tidak punya branding, tidak punya daya jual yang tinggi. Seharusnya sejak pencalonan kawan-kawan telah memiliki slogan. Saya harapkan sebagai public figur di FTI harus memposting minimal 1 kali tiga hari terkait isu apapun atau motivasi di media sosial kawa-kawan”.

Setelah semua kritikan dan saran dari panelis, kedua cagub menjawab sesi pertanyaan dari warga FTI. Kampanye dialogis untuk cagub BEM FTI berakhir setelah menjawab semua pertanyaan-pertanyaan dari warga FTI dan dilanjutkan dengan kampanye bagian kedua untuk kandidat DPM.

Usai Kampanye Dialogis, akan dilanjutkan dengan Kampanye Monologis hingga tanggal 21 Oktober dan puncaknya pada 23 Oktober 2019 yaitu pencoblosan Kandidat. Harapannya semua mahasiswa FTI menggunakan hak suaranya untuk memilih karena kandidat terpilih nantinya yang akan memimpin FTI untuk periode satu tahun mendatang.

Penulis : Nur Afni Sari Nazara

Editor : Egita Lorenza K