Paradigma Buruk Terhadap Lembaga Dakwah Kampus

Nur Afni Sari Nazara, Teknik Komputer Universitas Andalas Angkatan 2017

Lembaga Dakwah Kampus (LDK) tidak asing lagi bagi mahasiswa selaku kaum intelektual yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Sesuai dengan namanya, LDK berarti sebuah organisasi atau lembaga yang kegiatannya identik dengan aktivitas dakwah di kampus yang bertujuan mengajak dan semakin memperkuat keimanan seorang muslim terhadap Allah dan mengagungkan Rasulullah sang teladan seluruh umat. Kampus merupakan wadah pembentukan karakter, intelektual, dan kepekaan sosial mahasiswa. Kampus tempat yang dihuni ratusan bahkan ribuan mahasiswa tentu menjadi peluang bagi kader-kader dakwah untuk melakukan tugasnya di lingkungan kampus.

Kader-kader LDK dikenal berpernampilan syariah sesuai syariat islam. Akhwat-akhwat menggunakan hijab panjang dan lebar serta selalu menggunakan rok panjang untuk menutup aurat dari pandangan lelaki ajnabi, disempurnakan dengan akhlak yang baik dan lemah lembut. Para ikhwan menggunakan baju koko, berkopiah, berjenggot, celana isbal dan lain sebagainya.

Seperti itulah pandangan orang-orang jika mendengar istilah “Lembaga Dakwah Kampus”. Kader LDK merupakan wajah dari LDK. Baik dan buruknya dianggap sebagai cerminan dan persepsi terhadap LDK. Kader yang baik tentu akan memberikan pencitraan yang baik bagi LDK, begitu dengan sebaliknya. Namun, bagaimana jika realita tidak sesuai dengan ekspetasi orang-orang di luar sana? Bagaimana jika kondisi penghuni-penghuni LDK justru sebaliknya? Akhwat-akhwat yang menggunakan celana jeans ketat, hijab pendek di atas dada, dan juga dililit ke leher. Ikhwan-ikhwan tukang gombal, pacaran, dan mengumbar kemesraan di sana-sini. Lantas, apakah pandangan orang-orang akan berubah haluan terhadap pergerakan dakwah dari LDK itu sendiri?

Setiap perguruan tinggi, nama LDK bisa berbeda-beda. Kadang disebut Forum Studi Islam, Forum Kerohanian Islam, Badan Kerohanian Islam, dan lain sebagainya. Di kampus saya, LDK disebut dengan Forum Studi Islam (FSI). Saya melihat kondisi di atas pada salah satu FSI fakultas yang pernah saya temui.  Bahkan, salah satu mahasiswa magang di FSI tersebut menyampaikan keluhannya terkait dengan pengurus akhwat. Sebut saja nama FSI tersebut FSI “A”.

“Sedikit lucu akhwatnya, menggunakan celana ketat dan juga pacaran padahal mereka sudah tahu kalau FSI sebagai media dakwah yang memberikan contoh bagi orang-orang di sekitar” begitulah kira-kira ungkapannya saat itu.

Selain adanya FSI, setiap fakultas juga memiliki wisma akhwat dan ikhwan. Biasanya, mahasiswa yang ikut bergabung di FSI dianjurkan untuk tinggal di wisma. Namun, sayangnya ada beberapa pengurus FSI yang saya temui tidak berniat memasuki wisma. Justru orang lain di luar lembaga dakwah kampus yang menempati wisma. Padahal, wisma sendiri memiliki banyak program ke-islaman.

Mengamati kasus dari FSI yang saya temui, mungkin saja alasan beberapa mahasiswa ikut bergabung di FSI karena mantan hijrah, agar dikenal alim, atau hanya sekedar ikut-ikutan teman. Awalnya saya tidak mempermasalahkan hal demikian, karena setiap manusia pasti mengalami proses perubahan. Mahasiswa berkepribadian buruk ketika ikut bergabung di FSI bisa berubah menjadi lebih baik. Niat awal bukan karena Allah seiring waktu niat tersebut menjadi lurus karena Lillah. Terlepas dari itu semua, hanya Tuhan dan orang yang bersangkutan lah yang tahu.

Namun perlu diingat, bahwa keberhasilan LDK dimulai dari pembentukan kader yang berkualitas. Seorang kader dakwah harus memiliki kedekatan kepada Allah dengan baik. Kedekatan yang dimaksud dapat diperoleh melalui banyaknya interaksi dengan Al-Qur’an dan rutin ibadah kepada Allah. Kedekatan kepada Allah akan tampak dari penampilan. Penampilan kader yang islami dan interpersonal kader yang supel, ramah, bijak dan lain sebagainya menjadi modal bagi kader untuk menarik mahasiswa bergabung dengan LDK. Kader menjadi agen, media promosi, sekaligus wajah dari LDK. Saya hanya berharap, pergerakan dakwah kampus berjalan sesuai dengan asas dan tujuan, bukan hanya sekedar melanjutkan kepengurusan dan menjalankan program kerja dari organisasi.

 

Penulis : Nur Afni Sari Nazara

Editor : Egita Lorenza