Mahasiswa, Ayo Benahi Diri !

Mengkritik kinerja pemerintah boleh saja, tapi apakah kita mahasiswa sudah dikatakan pantas untuk mengkritik?

Paradigma kalau belum ikut demo, belum keren masih melekat pada sebagian besar mahasiswa. Padahal hakikat demo atau demonstrasi yang sebenarnya bukan demikian. Demonstrasi dilakukan sebagai bentuk unjuk rasa ketidakpuasan atau protes terhadap kebijakan pemerintah yang semata-mata dilakukan untuk kepentingan rakyat. Bukannya ajang pamer dan berlagak kritis.

Rata-rata demonstrasi yang dilakukan mahasiswa sekarang tidak melihat esensinya. Yang penting demo, tanpa melihat sebab dan efek jangka panjang. Demonstrasi sekarang juga identik dilakukan mahasiswa dengan kekerasan dan anarkisme yang kuat. Seperti demonstrasi yang dilakukan mahasiswa Makassar di hari Sumpah Pemuda, Sabtu (28/10/2017) kemaren. Melempari aparat kepolisian dengan batu hingga menyebabkan bentrok dan berujung penembakan gas air mata. Apakah demonstrasi kita sudah benar?

Menilik dari penyebab bobroknya demonstrasi mahasiswa, kita sebagai mahasiswa perlu mengoreksi diri. Mahasiswa berkoar-koar menunjukan kritik dan ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah, contohnya saja demonstrasi terhadap Korupsi. Mahasiswa membawa coretan-coretan yang bertuliskan ANTI KORUPSI, KEMBALIKAN HAK KAMI!, mencaci maki dan mengatai pejabat-pejabat negara, tapi apakah mereka sudah pantas untuk bertindak demikian? Apakah mahasiswa telah berlaku jujur sehingga mampu untuk mengkritik ketidakjujuran dan ketidakadilan?

Kuliah saja masih tidak jujur. Sering titip absen, tugas hanya mencontoh tugas teman, ujian melihat jimat dan menyontek. Yang hebatnya, dengan kemajuan zaman, hp menjadi sumber kecurangan mahasiswa dalam ujian. Melihat jimat katanya kompak, tidak mau menyonteki katanya pelit. Berbuat curang asal nilai bagus tak menjadi persoalan. Dapat nilai tapi tak dapat ilmu. Padahal ujian merupakan evaluasi diri sendiri. Untuk apa berbuat curang? Takut nilai rendah? Nilai bukan segalanya, jika nilai tak cukup masih ada perbaikan. Menjadi mahasiswa pengagung nilai, sampai-sampai ketidakjujuran dianggap hal biasa. Kalau begitu, apa pantas mahasiswa yang menganggap ketidakjujuran adalah hal biasa ini mengkritik ketidakjujuran pejabat pemerintah?

Tahukah kita kalau berbuat curang dalam ujian adalah cikal bakal Korupsi? Hal kecil jika terus dilakukan akan menjadi keterbiasaan. Jika curang dalam ujian sudah dianggap biasa, bagaimana nanti jika duduk di pemerintahan? Bisa-bisa Korupsi dianggap hal biasa. Lalu siapa yang akan merubah ketidakjujuran ini, jika mahasiswa yang memiliki peran agen perubahan saja sudah menginjaki kaki dalam lumpur ketidakjujuran?

Untuk itu kita sebagai mahasiswa perlu mengoreksi diri dan kembali merenung. Apa makna sebenarnya peran mahasiswa dan apakah kita sudah pantas untuk menjadi penyambung lidah rakyat.

Ayo benahi diri! Mahasiswa perlu bangkit kembali dengan formasi yang lebih intelek dan mapan.

Penulis adalah mahasiswa jurusan Sistem Informasi, Fakultas Teknologi Informasi, Universitas Andalas Angkatan 2015