Keangkuhan tanpa Tulisan Mahasiswa Fakultas Teknologi Informasi

Sore itu, mentari tidak bosan juga menyapa salah satu Fakultas di Universitas Andalas, siapa lagi kalau bukan si Fakultas Teknologi Informasi (FTI). Aku ingin memperkenalkan kepada para pembaca yang rupawan ini tentang para pejuang teknologi, boleh lah ya. Mereka adalah mahasiswa, mereka cerdas, kritis, dan “terlalu baik buat kamu”, namun sedikit angkuh.

Jemari kecilku ingin menyelesaikan tulisan tentang teknologi senin sore itu, tapi keangkuhan yang aku cemaskan kemunculan nya membuat semua ini terhenti. Percuma saja, jika teknologi dituliskan, tapi minat target pembaca nya saja masih kurang. Maha Tenar Netizen zaman sekarang memanglah sangat suka hal-hal yang ekstrim, suatu artikel yang salah dan ingin diolok-olok akan menjadi artikel dengan pembaca yang banyak. Izinkan saya memperkenalkan diri, saya adalah partikel kecil penyusun para pejuang teknologi ini, para mereka yang cerdas.

Kali ini aku mengatai kebanyakan orang di sini, karena aku tidak melihat tulisan, karena kebersamaan yang dijanjikan awal “maba” dahulu bullshit semua. Asalkan kita tahu, menulis itu modal dasar untuk seorang sarjana, jangan jadikan sedikit rasa angkuh itu menghambat kita untuk menulis, apalagi sok kritis tapi karya nol.

Kita adalah kumpulan partikel kecil, tapi jika bersama tetap dengan panji abu-abu yang kita bawa. Saya jenuh atas hingar bingarnya kondisi kita, prestasi hanya genggaman beberapa orang, disamping itu jiwa-jiwa malas tetap meracuni kita. Ada yang terus mengeluh terhadap kewajiban menulisnya, padahal kegiatan menulisnya adalah wadah untuk berkembang, mau jadi sarjana kan?

Mari kita timbang lagi opini yang saya maksudkan sebelumnya, “menulis itu modal dasar untuk seorang sarjana”. Percaya atau tidak, itu adalah hak pribadi anda semua. Salah satu bukti nyata yang membuat kita harus menulis(bahkan mau tidak mau), adalah skripsi. Jangan seperti ikan mati yang pada akhirnya, jika anda menemukan “dosen killer”, anda menyalahkan orang lain karena proses menyelesaikan studi anda terhambat. Seperti yang saya maksud, menulis adalah modal dasar, ataukah anda lebih memilih memberi upah kepada orang lain, demi menimbun rasa gengsi terhadap menulis.

Kita angkuh, entah apa sebabnya, salah satu keangkuhan kita adalah tanpa adanya tulisan yang kita ukir. Apapun kesibukan anda, apapun organisasi anda, izinkan artikel ini menjadi cara seorang insan memperingati, jadikan lah menulis modal dasar. Kemaren lusa, adalah hari pahlawan, bahkan di antara pahlawan pun ada yang menjadikan tulisan sebagai daya juangnya.

 

Penulis : Razzaq Ardana