Haris Suryamen: SDM Indonesia Mampu Ciptakan Peluang Bisnis di Era Internet of Everything

Orasi ilmiah Haris Suryamen, M. Sc. (Zakiy/Biner)
Orasi ilmiah Haris Suryamen, M. Sc. (Zakiy/Biner)

Pada peringatan Lustrum pertama Fakultas Teknologi Informasi (FTI) Universitas Andalas (UNAND), dosen Fakultas Teknologi Informasi, Haris Suryamen dipercaya untuk menyampaikan orasi ilmiah di Gedung Pustaka Lantai 5 UNAND, Rabu (16/8/2017).

Dalam orasi ilmiah yang berjudul “Pemanfaatan Smart Region Untuk Mengembangkan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia Dalam Menciptakan Peluang Bisnis di Era Internet of Everything”, Haris mengatakan legacy terbesar Indonesia tidak terletak hanya dari luas geografis, khasanah budaya, dan kekayaan alamnya. “Kekuatan bangsa Indonesia itu terletak pada moralitas dan kualitas brainware dari generasi muda yang berkarya,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan dari sisi perekonomian, Indonesia tumbuh cukup tinggi telah membawa Indonesia duduk di kelompok elit G-20 di posisi ke-16 dunia dengan GNP USD 1 triliun yang berarti terbesar di Asia Tenggara. Di sisi SDM, kualitas brainware bangsa Indonesia tidak kalah hebat dalam pengembangan teknologi terkini. “Onno W. Purbo dengan gagasan RT/RW-Net, Khoirul Anwar penemu jaringan 4G, Jim Geovadi seorang pakar TI yang berfokus pada penemuan celah keamanan dan jaringan bahkan satelit,” ungkapnya.

Selanjutnya, Haris menjelaskan batasan geografis tidak lagi menjadi pembatas kreativitas dan inovasi dalam menciptakan peluang bisnis karena TI memungkinkan pelaku bisnis menjalankan dan mengelola bisnis di skala lokal, regional, dan global termasuk untuk menjalankan bisnis pemula atau start-up.

Smart region merupakan pengembangan dari konsep smart city. Pada skala yang lebih renda, pedesaan juga menerapkan konsep smart village.  “Sekarang, Peningkatan TI memungkinkan untuk melakukan sinkronisasi dan sinergi antar beberapa Smart City dan Smart Village untuk menjadi smart region,” ujarnya.

Smart city dan smart region meliputi aspek smart governace, smart energi, smart building, smart mobility, smart infrastructure, smart technology, smart healthcare, dan smart citizen. “Secara fungsional, smart region adalah regional yang bisa mengelola SDA, SDM dan sumber daya lainnya sehingga warganya bisa hidup nyaman, aman, dan berkelanjutan,” jelasnya. Di Indonesia, aturan dari smart region adalah UU No. 4 Tahun 2011 Tentang Informasi Geospasial.

Baginya, banyak peluang bisnis dalam smart region yang dapat diambil, “Tap On Bus Validator, e-Retribusi Pasar, Terminal Parkir Elektronik, e-Commerce, pengelolaan sampah berbasis aplikasi, pengelolaan energi yang cerdas di mana stadion sepak bola, mal dan data center bekerja sama untuk melakukan penyeimbangan dan pembelian sumber energi masin-masing. Peluang bisnis lainnya adalah e-logistic, e-health, e-mobility, e-lighting, e-water, e-safety, e-government, dan sebagainya,” ujarnya.

Berikutnya, Haris menjelaskan kontribusi IT oleh bangsa Indonesia sehingga memungkinkan Indonesia menjadi salah satu kiblat IT. Indonesia merupakan representasi manajemen sumber daya yang sangat kompleks “Istilah big data adalah realitas bangsa kita ini. Dunia dapat belajar banyak dari pengalaman bangsa Indonesia dalam berbagai hal,” ungkapnya. Selain itu, populasi yang besar berarti gudang data dan pasar informasi, pengguna media sosial terbesar di dunia, industri utama gaya hidup.

Harapannya, komunitas IT termasuk akademisi di universitas jangan hanya menjadi target konsumsi produk IT dunia tetapi harus jeli pintar, cerdas dan arif dalam merebut peluang bisnis bahkan mempengaruhi dan menentukan arah perkembangan teknologi di masa depan. Dalam era big data, internet of everything, smart city, dan smart region faktor kuantitas atau faktor jumlah dalam skala yang besar sangat menentukan dan kita tahu bahwa bangsa Indonesia adalah representasi yang riil dari kuantitas IT yang besar.

Sementara itu, Rektor UNAND, Tafdil Husni, yang turut hadir dalam Lustrum I FTI UNAND mengapresiasi orasi ilmiah yang disampaikan oleh Haris Suryamen. “Orasi tersebut sangat menarik karena memaparkan bagaimana peluang bisnis di bidang IT yang sekarang merambah ke mobile,” ungkapnya.

Bagi Tafdil, yang menang itu bukanlah yang bisa mengalahkan yang lemah tetapi yang menang itu adalah yang bisa mengusai teknologi. “Dengan kemajuan teknologi, pada bisnis misalnya Blue Bird yang punya sarana kuat kewalahan karena Grab Taxi yang tidak punya armada. Itu karena angkutan online mengusai teknologi atau perbankan yang kesulitan meghadang fintech, Bukalapak itu keuntungannya besar sekali ujarnya menjelaskan.